5 Pertanyaan Menarik Seputar COVID-19 yang Perlu Kamu Ketahui

5 Pertanyaan Menarik Seputar COVID-19 yang Perlu Kamu Ketahui

Sejak Maret 2020, Indonesia menghadapi penyakit baru yang disebabkan oleh virus, yaitu COVID-19. Virus penyebab penyakit ini termasuk Novel Virus sehingga ada banyak hal yang belum kita ketahui tentang virus ini. Karena COVID-19 disebabkan oleh virus, daya tahan tubuh atau imun tubuh sangat berperan untuk melawan virus atau dikenal sebagai Self Limiting Disease. Asupan nutrisi yang baik dan mematuhi protokol kesehatan yang ada, bertujuan untuk menstimulasi imun tubuh lebih kuat, guna melawan virus dan meningkatkan kemampuan tubuh untuk menahan serangan virus. Di luar dari protokol kesehatan, banyak juga berita simpang siur yang beredar, sehingga membuat kita bingung akan kebenaran dari berita tersebut. Berikut 5 jawaban yang sering muncul menjadi pertanyaan dari COVID-19.

1. Bisakah gejala COVID-19 hilang-timbul?

Masih banyak yang perlu diteliti tentang gejala dan bagaimana perkembangan COVID-19. Namun berdasarkan yang diketahui saat ini, Jawabannya adalah ya, gejala COVID-19 bisa hilang timbul selama masa pemulihan.

Beberapa penyakit, seperti flu, dimulai dengan hidung tersumbat, merasa lelah, dan kemudian setelah beberapa hari hidung akan mengering dan energi kamu akan kembali. Namun orang dengan COVID-19 mengungkapkan bahwa gejala mereka dapat berubah dari baik menjadi buruk dalam semalam saat masa pemulihan. Mereka mungkin sudah tidak mengalami demam selama beberapa hari dan kemudian kembali lagi menjadi demam ringan. Atau batuk yang dialami mungkin tampak membaik, tetapi menjadi lebih buruk sehari kemudian.¹

2. Benarkah COVID-19 dapat menyebar melalui udara?

CDC (Centers for Disease Control and Prevention) mengatakan bahwa ya, COVID-19 dapat menyebar, ketika orang menghirup partikel virus yang tersuspensi di udara. Revisi pedoman yang diposting CDC pada 5 Oktober mengatakan bahwa COVID-19 dapat menyebar melalui droplet dan partikel yang dapat bertahan di udara selama beberapa menit hingga beberapa jam. Droplet dapat menginfeksi orang yang berjarak lebih dari 2 meter dari orang tersebut atau bahkan setelah orang tersebut meninggalkan area tersebut. CDC juga mengatakan kemungkinan virus menyebar lebih dari 2 meter di ruang tertutup dengan ventilasi yang buruk. Aktivitas seperti menyanyi dan berolahraga, dapat menambah risiko penularan.²

3. Dexamethasone, apakah benar obat untuk COVID-19?

Secara umum, obat jenis steroid seperti dexamethasone, direkomendasikan untuk pasien rawat inap yang membutuhkan oksigen tambahan atau menggunakan ventilator, sesuai dengan pedoman pengobatan COVID-19 dari National Institutes of Health. Laporan tentang penggunaan dexamethasone pada pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit menunjukkan bahwa obat tersebut menurunkan kemungkinan kematian bagi mereka yang membutuhkan bantuan pernapasan. Kasus kematian 30% lebih rendah untuk mereka yang menggunakan dexamethasone saat menggunakan ventilator dan sekitar 20% lebih rendah untuk mereka yang menggunakan dexamethasone saat menerima tambahan oksigen. Tidak ada laporan bahwa dexamethasone memberikan manfaat diantara pasien yang tidak menerima bantuan pernapasan. Perlu diperhatikan bahwa dexamethasone juga dapat memperlambat kemampuan tubuh untuk membersihkan virus. Dosis tinggi bisa lebih berbahaya daripada membantu. Sehingga dokter perlu memperhatikan waktu yang tepat dalam memberikan dexamethasone sebagai bagian dari penanganan COVID-19.³

4. Apakah Remdesivir merupakan obat COVID-19?

Remdevisir awalnya dikembangkan sebagai pengobatan untuk infeksi virus Ebola. Namun para peneliti tertarik pada potensinya untuk menangani pasien dengan COVID-19. Sama halnya seperti penggunaan dexamethasone pada pasien COVID-19, remdevisir digunakan oleh pasien kasus berat yang membutuhkan bantuan oksigen. Perlu dicatat bahwa tidak ada obat yang sepenuhnya aman, dan remdesivir juga demikian. Sehingga penggunaan remdesivir untuk pencegahan COVID-19 tidak diizinkan.⁴

5. Mengapa plastik face shield bukan alternatif yang aman pengganti masker kain?

Masker wajah tetap menjadi inti dari rekomendasi CDC (Centers for Disease Control and Prevention) untuk melindungi diri sendiri dan orang lain dari COVID-19. Namun, penggunaan pelindung wajah berbahan plastik atau yang sering kita sebut face shield, tidak memberikan perlindungan yang memadai dari COVID-19 saat digunakan sebagai alternatif masker wajah kain. Memakainya bersama dengan masker wajah kain direkomendasikan sebagai cara terbaik untuk melindungi diri.⁵




¹ WebMD. (October 8, 2020). Can COVID Symptoms Come and Go?. Retrieved from https://blogs.webmd.com/public-health/20200914/can-covid-symptoms-come-and-go
² WebMD. (October 8, 2020). CDC Says Once Again Breathing Can Spread COVID. Retrieved from https://www.webmd.com/lung/news/20200921/ccd-says-breathing-can-spread-covid-then-reverses
³ WebMD. (October 8, 2020). Why is Trump Taking Dexamethasone and Does It Work?. Retrieved from https://www.webmd.com/lung/news/20201005/why-is-trump-taking-dexamethasone-and-does-it-work
⁴ COVID-19 Treatment Guidelines. (October 13, 2020). Remdesivir. Retrieved from https://www.covid19treatmentguidelines.nih.gov/antiviral-therapy/remdesivir/
⁵ Healthline. (October 13, 2020). Why Plastic Face Shields Aren’t a Safe Alternative to Cloth Masks. Retrieved from https://www.healthline.com/health-news/why-plastic-face-shields-arent-a-safe-alternative-to-cloth-masks