Bahaya Polusi Udara, Tidak Hanya Menyebabkan Infeksi Saluran Pernapasan, Tapi Juga Obesitas Hingga Diabetes

FibreFirstHealth Articles Leave a Comment

Masalah kualitas udara di Indonesia, khususnya di Jakarta, menjadi topik utama saat ini. Sekitar 90% individu di seluruh dunia, yang tinggal di daerah perkotaan, terpapar udara yang mengandung polutan tingkat tinggi, dan sekitar 4,2 juta orang meninggal secara dini akibat polusi udara luar ruangan setiap tahunnya.¹

Di daerah perkotaan, perkembangan ekonomi yang pesat dan urbanisasi telah meningkatkan konsumsi energi dan emisi polutan secara bersamaan, yang menyebabkan pencemaran lingkungan yang semakin serius.²

Beberapa bulan terakhir, kualitas udara di kota Jakarta juga semakin menurun, bahkan sudah mengkhawatirkan, dan disinyalir penyebabnya adalah kendaraan, industri/PLTU, serta rumah tangga. Polusi udara merupakan ancaman utama bagi kesehatan lebih dari 10,5 juta penduduk Jakarta.

Penelitian yang dilakukan beberapa dekade terakhir di banyak kota di seluruh dunia menunjukkan bahwa kematian yang berhubungan dengan polusi udara meningkat seiring dengan meningkatnya tingkat polusi udara. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyatakan bahwa polusi udara adalah salah satu risiko lingkungan utama bagi kesehatan, yang menyebabkan kesakitan (morbiditas) dan mortalitas (kematian), termasuk kanker, penyakit kardiovaskular, dan penyakit pernapasan. Pada tahun 2019, Global Burden of Disease (GBD) Study memperkirakan bahwa polusi udara menyebabkan 5054 kematian (atau 54 per 100.000 orang) di Jakarta.³ Beberapa penelitian juga telah menunjukkan secara rinci dampak polusi udara terhadap kesehatan manusia. Polusi udara dapat berdampak negatif pada sistem pernapasan atau paru-paru, sistem kardiovaskular, sistem pencernaan, kulit, sistem reproduksi, dan kanker.⁴ Bahkan penelitian lain juga menunjukkan bahwa zat polutan berdampak buruk pada saluran pencernaan (memengaruhi fungsi penghalang dan komposisi mikrobiota usus) dan sistem kekebalan tubuh.⁵ Hal ini semakin membuktikan bahwa usus memiliki hubungan dua arah dengan paru-paru, atau dikenal juga dengan gut-lung axis (GLA).

Komposisi mikrobiota usus sangat bervariasi di antara individu; keanekaragaman bakteri tertentu berhubungan dengan beberapa faktor, antara lain usia, pola makan, pemberian antibiotik, dan yang baru-baru ini disoroti, paparan polusi lingkungan. Mikrobiota usus memegang fungsi vital di dalam tubuh, karena itu keanekaragaman dan jumlahnya harus dapat dipelihara dengan baik. Beberapa fungsi mikrobiota usus antara lain mencegah pertumbuhan bakteri jahat/ berbahaya di pencernaan, membantu mencerna makanan, mencegah respon peradangan di dalam tubuh yang berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit degeneratif, hingga membantu menjaga daya tahan tubuh.

Individu obesitas dan menyandang diabetes tipe 2 memiliki profil mikrobiota usus yang berbeda, ditemukan penurunan keanekaragaman mikrobiota dan perubahan jumlah Firmicutes serta Bacteroidetes, yang selanjutnya dapat mengurangi produksi asam lemak rantai pendek (SCFA) dan meningkatkan peradangan di dalam tubuh. Perubahan ini juga dapat menyebabkan pertumbuhan bakteri jahat, rusaknya penghalang usus, dan endotoksin kronis. Oleh karena itu, paparan polusi udara dapat berkontribusi pada peningkatan risiko obesitas dan diabetes tipe 2 melalui perubahan komposisi dan fungsi mikrobiota usus. ⁶

Menilik risiko kesehatan yang dapat dialami akibat polusi udara, beberapa hal yang dapat FibreSquads lakukan untuk mengurangi paparan polusi udara antara lain menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, terapkan pola hidup bersih dan sehat, termasuk mengonsumsi makanan sehat bergizi seimbang. Tidak lupa, penuhi asupan serat harian dengan konsumsi buah dan sayuran yang cukup. Selain serat, buah dan sayuran juga mengandung beragam vitamin, mineral, serta antioksidan. Jika kamu jarang mengonsumsi buah dan sayuran, kamu juga dapat mengonsumsi FibreFirst, sebagai suplemen kesehatan tinggi serat yang terbuat dari bahan alami berkualitas, buah dan sayuran asli, serta tidak mengandung gula tambahan. Tetap jaga kesehatan ya FibreSquads!


¹ World Health Organization. (2022, December 19). Ambient (outdoor) Air Pollution. World Health Organization. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/ambient-(outdoor)-air-quality-and-health
² Chen, Y., Zhu, Z., & Cheng, S. (2022). Industrial agglomeration and haze pollution: Evidence from China. Science of The Total Environment, 845, 157392.
³ Indonesia – Jakarta. The Institute for Health Metrics and Evaluation. (n.d.). https://www.healthdata.org/research-analysis/health-by-location/profiles/indonesia-jakarta
⁴ Li, T., Hu, R., Chen, Z., Li, Q., Huang, S., Zhu, Z., & Zhou, L. F. (2018). Fine particulate matter (PM2. 5): The culprit for chronic lung diseases in China. Chronic diseases and translational medicine, 4(03), 176-186.
⁵ Ghoshal, U., Shukla, R., Srivastava, D., & Ghoshal, U. C. (2016). Irritable bowel syndrome, particularly the constipation-predominant form, involves an increase in Methanobrevibacter smithii, which is associated with higher methane production. Gut and liver, 10(6), 932.

⁶ Bailey, M. J., Naik, N. N., Wild, L. E., Patterson, W. B., & Alderete, T. L. (2020). Exposure to air pollutants and the gut microbiota: a potential link between exposure, obesity, and type 2 diabetes. Gut Microbes, 11(5), 1188-1202.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *