Berpuasa, Saat Tubuh Melakukan Detoks dan Memperbaiki Sel Tubuh

Berpuasa, Saat Tubuh Melakukan Detox dan Memperbaiki Sel Tubuh

Selama bulan Ramadhan, umat Islam diperintahkan untuk melaksanakan ibadah puasa. Saat berpuasa, kita tidak makan dan minum selama lebih dari 12 jam. Perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuh kita selama berpuasa akan memberi dampak yang baik untuk kesehatan, asalkan selama puasa kita tetap memperhatikan pola makan yang sehat. Berpuasa juga disebutkan dapat mendetoks tubuh dan memperbaiki sel tubuh yang rusak di dalam tubuh, benarkah?

Hubungan puasa dengan detoks tubuh

Secara singkat, detoks atau detoksifikasi berarti membuang atau menghilangkan racun, sehingga kita dapat memberi makan tubuh kita dengan nutrisi yang sehat dan baik. Detoksifikasi dapat membantu melindungi tubuh dari penyakit dan memperbaharui kemampuan Anda untuk menjaga kesehatan yang optimal.¹ Setiap harinya tubuh kita terpapar oleh beragam racun, baik yang dihasilkan dari metabolisme tubuh sendiri, dari lingkungan sekitar (polusi udara), maupun dari pola makan dan gaya hidup yang tidak sehat (misalnya konsumsi makanan yang diolah berlebihan, junk food, konsumsi alkohol).

Secara alami, tubuh manusia sudah memiliki mekanisme sendiri dalam menangani racun-racun dalam tubuh. Organ detoksifikasi utama antara lain hati, ginjal, usus dan sistem pencernaan, serta kulit. Bagaimana puasa dapat membantu detoks? Saat berpuasa, tubuh tidak mendapat asupan makanan atau kalori lebih dari 12 jam dan proses pembakaran lemak akan meningkat.² Simpanan karbohidrat di dalam tubuh berkurang, sehingga tubuh akan mengubah lemak menjadi energi untuk menjalani aktivitas kita selama berpuasa. Racun yang ada di dalam tubuh akan disimpan ke dalam sel lemak. Jadi ketika pembakaran lemak meningkat karena berpuasa, racun-racun yang disimpan dalam sel lemak juga akan dipecah dan dikeluarkan dari tubuh.

Puasa memperbaiki sel-sel tubuh

Pembatasan nutrisi karena tidak makan dan minum selama berpuasa, juga dapat memicu proses Autofagi. Kata ini berasal dari bahasa Yunani auto (sendiri) dan phagein (untuk makan). Jadi kata secara harfiah dapat diartikan sebagai memakan diri sendiri. Ada triliunan sel yang menyusun tubuh manusia. Seiring waktu, molekul-molekul sisa yang terbentuk dari metabolisme sel dapat menumpuk di dalam sel dan menyebabkan kerusakan. Sel yang sudah rusak, tidak dibutuhkan lagi dan perlu dibuang. Autofagi merupakan cara tubuh untuk membersihkan diri dari sel-sel yang sudah tua dan rusak sehingga dapat membentuk sel-sel baru yang lebih sehat. Selama autofagi, sel membuang bagian yang tidak diinginkan dan bagian yang sudah tidak berfungsi dengan baik. Tetapi, kadang kala sel juga akan mendaur ulang bagian yang rusak tersebut menjadi komponen baru atau asam amino (bagian terkecil penyusun protein).³ Ketika kita berpuasa dan membatasi jumlah makanan yang masuk ke tubuh kita, sel di dalam tubuh kita akan mendapat asupan kalori yang lebih sedikit, sehingga sel harus bekerja lebih efisien.⁴ Sel-sel tubuh akan membuang komponen yang tidak dibutuhkan dan bagian sel yang sudah rusak, atau mendaur ulang zat-zat tersebut menjadi bagian sel yang masih berfungsi dengan baik. Dengan cara ini, sel tubuh dapat bekerja dengan normal walaupun tidak mendapatkan asupan energi yang cukup. Selain itu, hubungan puasa dengan autofagi juga erat kaitannya dengan hormon insulin dan glukagon. Insulin dan glukagon adalah hormon yang membantu tubuh dalam mengatur kadar gula darah, kedua hormon ini bekerja secara berkebalikan. Saat tubuh mendapat asupan makanan, khususnya karbohidrat, tubuh akan meningkatkan produksi hormon Insulin, sedangkan hormon glukagon menurun. Sebaliknya, saat tubuh sedang berpuasa, hormon glukagon akan meningkat dan memicu proses autofagi juga.

PIlihan makanan saat puasa memengaruhi proses detoks

Sayangnya, ketika pola makan dan pilihan makanan selama berpuasa justru lebih banyak yang tidak sehat, rendah nutrisi, tinggi lemak dan kolesterol, lebih banyak konsumsi makanan olahan atau instan dengan tambahan bahan pengawet, dan rendah antioksidan, akan menyebabkan penumpukan racun dalam sel-sel tubuh.⁵ Status gizi akan mempengaruhi tubuh untuk memproduksi antibodi dan enzim, serta kemampuan hati untuk melakukan detoksifikasi. Sedangkan konsumsi fitokimia tertentu (yang berasal dari buah dan sayuran) membantu detoksifikasi lebih optimal. Kurang konsumsi serat juga menyebabkan gejala konstipasi meningkat hingga tiga kali lipat selama berpuasa. Kondisi ini menyebabkan pergerakan usus sedikit dan memicu penyerapan lemak serta racun yang lebih banyak.

Jangan lupa untuk tetap memperhatikan asupan makanan yang sehat dan baik selama berpuasa, termasuk asupan serat. Mengapa? Konsumsi serat akan membantu menjaga kesehatan sistem pencernaan, yang merupakan salah satu organ detoksifikasi. Dengan waktu makan yang terbatas selama berpuasa, mungkin terasa lebih sulit untuk mengonsumsi serat atau buah dan sayuran dalam jumlah yang cukup. Apalagi saat berbuka puasa kita cenderung memilih makanan-makanan khas bulan Ramadhan, yang biasa digoreng, tinggi lemak, dan terlalu manis. Hanya 15% masyarakat yang memilih berbuka puasa dengan buah-buahan segar.⁶ Untuk membantu memenuhi asupan serat, kita dapat mengonsumsi suplemen kaya serat seperti FibreFirst.

FibreFirst adalah suplemen kesehatan yang kaya serat premium dan nutrisi dari ekstrak buah dan sayuran. Konsumsi satu saset FibreFirst setelah makan besar atau makan utama di waktu berbuka puasa, dapat membantu sistem pencernaan melakukan detoks dengan optimal. Kandungan serat premium dalam FibreFirst bermanfaat untuk menjaga kesehatan sistem pencernaan dan memberikan nutrisi untuk sistem pencernaan. FibreFirst, buang racun selama berpuasa.



¹ Health.am. “36 Foods That Help Detox and Cleanse Your Entire Body”. Retrieved from http://www.health.am/ab/more/36-foods-that-help-detox/ (accessed on 8 May 2020)
² Ho, K. Y., Veldhuis, J. D., Johnson, M. L., Furlanetto, R., Evans, W. S., Alberti, K. G., & Thorner, M. O. (1988). Fasting enhances growth hormone secretion and amplifies the complex rhythms of growth hormone secretion in man. The Journal of clinical investigation, 81(4), 968-975.
³ Marx, Vivien. “Autophagy: eat thyself, sustain thyself.” Nature methods 12.12 (2015): 1121-1125.
⁴ Bagherniya, Mohammad, et al. “The effect of fasting or calorie restriction on autophagy induction: A review of the literature.” Ageing research reviews 47 (2018): 183-197.
⁵ Seliger, S. “Is Fasting Healthy?”. Retrieved from https://www.webmd.com/diet/features/is_fasting_healthy#1 (accessed on 8 May 2020)
⁶ Jakpat. Rencana dan Kebiasaan Buka Puasa Bersama di Bulan Ramadhan. Retrieved from https://blog.jakpat.net/rencana-dan-kebiasaan-buka-puasa-bersama-di-bulan-ramadhan-survey-report/ (Accessed on April 21, 2020)