FibreFirst - Suplemen Serat Premium Detox Harian - Ingin makan padahal tidak lapar, Mungkin kamu mengalami stress eating

Ingin makan padahal tidak lapar, Mungkin kamu mengalami stress eating

Deadline menumpuk, tugas kuliah belum selesai, atau sedang kesal dengan pacarmu? Sehabis itu ingin makan sebagai pelampiasan rasa stres tersebut? Kondisi inilah yang dinamakan stress eating.

Istilah stress eating merupakan kondisi dimana kamu konsumsi makanan dalam jumlah lebih banyak dari biasanya karena dipicu oleh rasa stres. Saat kamu makan, biasanya hanya untuk menyamankan diri, bukan karena benar-benar lapar. Sayangnya, makanan yang lebih sering dikonsumsi adalah makanan yang tinggi kalori tapi rendah serat.1 Kondisi stress eating ini dapat menyebabkan kelebihan asupan kalori yang menyebabkan berat badan meningkat. Jadi makanan apa yang harus dikonsumsi agar stres berkurang dan tubuh tetap sehat?

INDEX CONTENT

1. Sayuran berdaun hijau dan kacang-kacangan
2. Salmon, tuna, dan sarden
3. Teh Hijau
4. Batasi konsumsi makanan tinggi gula dan tinggi lemak

Sayuran berdaun hijau dan kacang-kacangan

Almond panggang atau brokoli rebus, dapat menjadi pilihan saat FibreSquad mengalami stress eating. Kandungan asam folat dalam makanan tersebut dapat mencegah depresi, menyeimbangkan kerja otak, dan memperbaiki mood.¹ Selain itu, sayuran berdaun hijau dan kacang-kacangan juga mengandung tinggi serat yang bantu jaga kesehatan sistem pencernaan.

Salmon, tuna, dan sarden

Penelitian yang dimuat di Jurnal Molecular Psychiatry menunjukan bahwa omega 3 pada ikan tersebut dapat mengurangi rasa depresi serta melindungi dari kerusakan sel.² Hal tersebut dikarenakan omega 3 dapat menstabilkan hormon yang mengatur mood kita.³

Teh hijau

Secangkir teh hijau hangat juga dapat membantu FibreSquad memperbaiki mood. Teh hijau mengandung asam amino dan theanine yang dapat menenangkan sistem saraf kita sehingga kita merasa lebih rileks dan dapat mengatur emosi.⁴

Batasi konsumsi makanan tinggi gula dan tinggi lemak

Konsumsi makanan yang tinggi gula dan makanan berlemak mungkin dapat memberikan kenyamanan sesaat, tetapi faktanya makanan yang tinggi gula justru menyebabkan kita kesulitan dalam mengelola emosi.⁵ Selain itu, risiko berbagai jenis penyakit, khususnya penyakit degenaratif, juga dapat meningkat.⁶



¹ D’Anci, Kristen E., and Irwin H. Rosenberg. “Folate and brain function in the elderly.” Current Opinion in Clinical Nutrition & Metabolic Care 7.6 (2004): 659-664.
² Lin, Pao-Yen, et al. “Are omega-3 fatty acids antidepressants or just mood-improving agents? The effect depends upon diagnosis, supplement preparation, and severity of depression.” Molecular psychiatry 17.12 (2012): 1161.
³ Su, Kuan-Pin. “Biological Mechanism of Antidepressant Effect of Omega–3 Fatty Acids: How Does Fish Oil Act as a ‘Mind-Body Interface’?.” Neurosignals 17.2 (2009): 144-152.
⁴ Hozawa, Atsushi, et al. “Green tea consumption is associated with lower psychological distress in a general population: the Ohsaki Cohort 2006 Study.” The American journal of clinical nutrition 90.5 (2009): 1390-1396.
⁵ Stefanidis, Aneta, and Matthew J. Watt. “Does too much sugar make for lost memories?.” The Journal of physiology 590.Pt 16 (2012): 3633.
⁶ Everitt, Arthur V., et al. “Dietary approaches that delay age-related diseases.” Clinical interventions in aging 1.1 (2006): 11.