Konstipasi dan Kebiasaan Menggunakan Obat Pencahar
Publish Date: 30 November 2022

Konstipasi dan Kebiasaan Menggunakan Obat Pencahar

FibreSquads pernah mengalami masalah dengan buang air besar tidak teratur? Mungkin itu merupakan salah satu gejala konstipasi/sembelit. Konstipasi atau sembelit adalah gangguan buang air besar (BAB) yang ditandai dengan berkurangnya frekuensi BAB < 3 kali dalam seminggu, perasaan tidak tuntas setelah BAB, atau kombinasi keduanya.¹

Pada orang dewasa, prevalensi konstipasi berkisar antara 2,6% hingga 26,9%.² Konstipasi lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pria, dan prevalensinya meningkat seiring bertambahnya usia. Kejadian konstipasi juga terbukti memiliki dampak klinis, ekonomi, dan kualitas hidup yang signifikan dan berhubungan dengan tekanan psikologis yang jauh lebih tinggi.

Kurangnya pengetahuan menjadi masalah utama dalam penatalaksanaan konstipasi. Beberapa orang kadang memilih untuk menggunakan obat pencahar atau laksatif. Berdasarkan data, sekitar 16-40% orang dengan konstipasi, menggunakan obat pencahar.³

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, laksatif adalah obat untuk mengeluarkan kotoran/feses dari saluran cerna. Pencahar atau laksatif memang memiliki mengacu pada banyak zat, termasuk obat atau suplemen, yang dapat membantu buang air besar (BAB). Ada beberapa jenis obat pencahar, yaitu:⁴

Jenis obat pencahar

Jenis obat pencahar

1. Bulking Agents

Cara kerjanya yaitu dengan menyerap air di usus, membuat feses lebih lunak, dan meningkatkan massa feses/menghasilkan feses yang lebih besar. Karena massa feses yang lebih besar, akan membuat usus berkontraksi dan feses dapat keluar dengan lebih mudah.

2. Pencahar Stimulan

Jenis pencahar ini bekerja dengan merangsang lapisan usus, memicu usus berkontraksi, dan mendorong feses keluar. Jangan gunakan obat pencahar stimulan setiap hari atau secara teratur. Jenis pencahar ini dapat melemahkan kemampuan alami tubuh untuk buang air besar dan menyebabkan ketergantungan pencahar.

3. Pencahar Osmotik

Obat pencahar osmotik menarik air ke dalam usus dari jaringan di sekitarnya untuk melunakkan feses dan meningkatkan frekuensi buang air besar. Kamu harus mengonsumsi banyak air jika sedang mengonsumsi pencahar osmotik, tidak hanya agar pencahar menjadi efektif, tetapi untuk mengurangi timbulnya gas dan kram.

4. Pelunak Feses

Pelunak feses biasanya mengandung Natrium dokusat dan Kalsium dokusat sebagai bahan aktif. Cara kerjanya dengan melunakkan feses, membuatnya lebih mudah untuk melewati saluran cerna. Dokter terkadang meresepkan pelunak feses setelah operasi besar, seperti operasi jantung atau perbaikan hernia.

Baca juga:  4 Tips Berpuasa Sehat di Masa Pandemi COVID-19

Obat pencahar juga dapat menyebabkan efek samping, tergantung pada jenis obat pencahar yang kamu gunakan. Efek samping yang umumnya dirasakan antara lain perut kembung, buang gas terus menerus, kram perut, mual, dehidrasi yang dapat memicu pusing hingga sakit kepala.

Penggunaan obat pencahar terlalu sering juga dapat menyebabkan diare, usus tersumbat oleh kotoran yang besar dan kering (penyumbatan usus), serta ketidakseimbangan kadar mineral dalam tubuh. Studi yang dimuat dalam Scandinavian Journal of Gastroenterology menyebutkan bahwa penggunaan obat pencahar stimulant tidak direkomendasikan lebih dari 4 minggu. ⁵

Lalu apa yang direkomendasikan untuk mengatasi konstipasi?

Cara yang lebih aman serta praktis untuk mengatasi konstipasi yaitu mengubah gaya hidup dengan memenuhi asupan serat harian, mengonsumsi buah dan sayuran yang cukup (minimal 400 g per hari), memenuhi asupan cairan, dan melakukan aktivitas fisik secara rutin.

Manfaat fibrefirst meningkatkan kesehatan pencernaan

FibreFirst solusi konstipasi, sembelit, sulit BAB aman dan sudah BPOM

Jika asupan serat harian kamu tidak dapat terpenuhi dari makanan sehari-hari, kamu dapat mengonsumsi suplemen tinggi serat untuk membantu memenuhi asupan serat harian ya.


¹ Bharucha, A. E., Pemberton, J. H., & Locke, G. R. (2013). American Gastroenterological Association technical review on constipation. Gastroenterology, 144(1), 218-238.
² Lúcia, F. M. Q. S. V., & de Gouveia Santos, C. (2014). Prevalence of Constipation in the General Adult Population. J Wound Ostomy Continence Nurs, 41(1), 70-76.
³ Wald, A., Scarpignato, C., Mueller‐Lissner, S., Kamm, M. A., Hinkel, U., Helfrich, I., … & Mandel, K. G. (2008). A multinational survey of prevalence and patterns of laxative use among adults with self‐defined constipation. Alimentary pharmacology & therapeutics, 28(7), 917-930.
⁴ Overview – Laxatives (2022) NHS choices. NHS. Available at: https://www.nhs.uk/conditions/laxatives/ (Accessed: November 29, 2022).
⁵ Noergaard, M., Traerup Andersen, J., Jimenez-Solem, E., & Bring Christensen, M. (2019). Long term treatment with stimulant laxatives–clinical evidence for effectiveness and safety?. Scandinavian Journal of Gastroenterology, 54(1), 27-34.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

two × 3 =