Kurangi Risiko Alergi Makanan dengan Sistem Pencernaan Sehat

Kurangi Risiko Alergi Makanan dengan Sistem Pencernaan Sehat

Kejadian alergi semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Di Indonesia, beberapa penelitian menunjukkan bahwa kasus alergi meningkat sekitar 30% setiap tahunnya.¹ Alergi muncul ketika sistem imun seseorang memiliki reaksi ekstrim terhadap suatu zat yang biasanya tidak memicu respon orang pada umumnya. Respon dari alergi dapat muncul mulai dari iritasi ringan seperti ruam kulit, mual, muntah, kesulitan bernapas, hingga syok anafilaksis yang disebabkan oleh reaksi alergi yang berat dan mengancam jiwa, sehingga membutuhkan penanganan medis dengan segera. Alergi makanan merupakan penyebab reaksi anafilaksis yang paling sering. Sebuah penelitian tahun 2018 mengenai prevalensi alergi menunjukkan bahwa alergi makanan setidaknya memengaruhi sekitar 10% kondisi kesehatan orang di negara-negara bagian Barat, dengan prevalensi terbesar terjadi pada anak-anak muda. Peningkatan prevalensi alergi makanan di Asia terjadi karena adanya adopsi gaya hidup kebarat-baratan.²

Alergi terhadap susu sapi dan telur adalah salah satu alergi makanan yang paling umum terjadi, khususnya pada anak-anak. Sementara alergi terhadap kacang-kacangan, ikan, dan kerang-kerangan lebih umum pada orang dewasa. Alergi makanan dapat bervariasi dari satu negara ke negara, tergantung pada kebiasaan makan pada negara tersebut. Contohnya, di Thailand Utara, udang menjadi pemicu alergi makanan yang paling umum. Sedangkan di India, chickpea merupakan pemicu alergi utama dari makanan. Ada beberapa faktor yang dapat menjelaskan alasan tersebut. Penelitian terbaru mengidentifikasi faktor penting yang dapat berpengaruh terhadap munculnya alergi terhadap makanan adalah bakteri di saluran pencernaan.2

Ketika ada perubahan pada jumlah dan keseimbangan bakteri di saluran pencernaan, risiko alergi juga mungkin akan muncul. Penelitian memperkuat bahwa bakteri tertentu dalam saluran pencernaan dapat menyebabkan alergi makanan, dan kondisi ini dapat terjadi pada jutaan orang. Penurunan jumlah bakteri Lactobacilli dan peningkatan jumlah Staphylococcus aureus berhubungan dengan alergi telur dan alergi susu. Dengan demikian, meningkatkan jumlah dan keberagaman bakteri baik pada saluran pencernaan dapat menjadi salah satu cara untuk menangani alergi makanan.³

Usus manusia, yang termasuk dalam sistem pencernaan, adalah rumah bagi triliunan mikroorganisme, termasuk lebih dari 1.000 spesies bakteri. Bakteri ini memainkan peran penting dalam kesehatan dan penyakit. Bakteri di saluran cerna dapat memengaruhi kesehatan seseorang dengan berbagai cara. Misalnya, bakteri dapat berinteraksi dengan hormon untuk memicu peradangan. Para peneliti juga menemukan bukti kuat bahwa bakteri di saluran pencernaan bekerjasama dengan imun membentuk sistem imun yang lebih kompleks.⁴

Pola makan menjadi kunci untuk mencegah timbulnya alergi. Salah satu pola makan yang berhubungan dengan kejadian alergi adalah konsumsi serat, yang merupakan jenis karbohidrat kompleks sebagai makanan utama untuk bakteri baik di saluran pencernaan. Serat berkontribusi menyimbangkan bakteri di saluran pencernaan dan menjaga kesehatan sistem pencernaan sehingga mampu untuk meningkatkan sistem imun tubuh. Asam lemak rantai pendek yang berasal dari fermentasi serat oleh bakteri di pencernaan memengaruhi aktivitas sel imun bawaan dan adaptif secara langsung. Beberapa penelitian menunjukkan hubungan asam lemak rantai pendek dalam perlindungan alergi, khususnya alergi yang memengaruhi saluran pernafasan.⁵ Penting untuk melakukan pola makan sehat kaya serat untuk memberi makan dan meningkatkan keanekaragaman bakteri yang menguntungkan bagi saluran pencernaan.⁶ Sementara pola makan yang rendah serat, tinggi lemak, tinggi gula, dan konsumsi antibiotik tidak tepat dapat menurunkan keanekaragaman bakteri di saluran pencernaan.⁷ Selain menghindari makanan yang dapat menyebabkan reaksi alergi, untuk mengurangi risiko timbulnya alergi juga dapat dilakukan dengan meningkatkan konsumsi serat. Hal paling mudah yang dapat dilakukan adalah meningkatkan konsumsi buah dan sayuran, sebagai salah satu sumber serat. Tetapi jika hal tersebut juga dirasa sulit, kita dapat mengonsumsi suplemen kaya serat untuk membantu memenuhi asupan serat dan menjaga kesehatan sistem pencernaan. Jadi, sudah makan serat hari ini?



¹ IZN. Setiap Tahun, Penderita Alergi di Indonesia Bertambah 30 Persen. Retrieved from http://www.pdpersi.co.id/content/news.php?mid=5&nid=707&catid=23 (accessed on 11 June 2020)
² Loh, W., & Tang, M. L. (2018). The epidemiology of food allergy in the global context. International journal of environmental research and public health, 15(9), 2043.
³ Abdel-Gadir, A., Stephen-Victor, E., Gerber, G. K., Rivas, M. N., Wang, S., Harb, H., … & Secor, W. (2019). Microbiota therapy acts via a regulatory T cell MyD88/RORγt pathway to suppress food allergy. Nature Medicine, 25(7), 1164-1174.
⁴ Medical News Today. Could certain gut bacteria protect against food allergy?. Retrieved from https://www.medicalnewstoday.com/articles/325560
⁵ Trompette, A., Gollwitzer, E. S., Yadava, K., Sichelstiel, A. K., Sprenger, N., Ngom-Bru, C., … & Marsland, B. J. (2014). Gut microbiota metabolism of dietary fiber influences allergic airway disease and hematopoiesis. Nature medicine, 20(2), 159.
⁶ Pascal, M., Perez-Gordo, M., Caballero, T., Escribese, M. M., Lopez Longo, M. N., Luengo, O., … & Labrador, M. (2018). Microbiome and allergic diseases. Frontiers in immunology, 9, 1584.
⁷ WebMD. (June 9, 2020). A Healthy Gut May Resist Allergies. Retrieved from https://www.webmd.com/allergies/news/20041223/healthy-gut-may-resist-allergies-asthma