Masalah Pencernaan, Gejala Lain Covid-19

Masalah Pencernaan, Gejala Lain dari COVID-19

Salah satu tantangan dalam menghadapi pandemi COVID-19 adalah virus Corona termasuk novel virus yang belum memiliki data rinci.Beberapa gejala paling umum yang dialami selama infeksi COVID-19 antara lain demam, batuk kehilangan penciuman atau rasa, dan sesak nafas. Berdasarkan riset yang dilakukan The Chinese University of Hongkong, melalui pemeriksaan feses atau tinja, ditemukan pasien dinyatakan positif terinfeksi COVID-19 meskipun sampel pernapasan mereka negatif.¹ Hal tersebut terjadi karena virus Corona terus menginfeksi dan bereplikasi di saluran pencernaan, meski sudah tidak ada di saluran pernapasan. Bahkan infeksi pada pencernaan ini terjadi tanpa menunjukkan adanya gejala pada sistem pencernaan (gastrointestinal), seperti diare, mual, muntah, dan lain-lain.

Pada sebuah studi terbaru yang dimuat dalam jurnal Abdominal Radiology berhasil mengidentifikasi beberapa masalah pencernaan (gastrointestinal) yang terlihat melalui pencitraan perut atau endoskopi sebagai gejala baru COVID-19.² Studi tersebut mereview dari 36 studi atau artikel ilmiah yang membahas masalah pencernaan pada pasien COVID-19. Studi tersebut mengindentifikasi dua temuan utama, pertama, gejala atau masalah gastrointestinal adalah aspek signifikan dari COVID-19 dan muncul jika tidak ada gejala lain yang lebih umum. Dari meta-analisis yang melibatkan 4.200 subjek, masalah pencernaan muncul pada 17,6% pasien COVID-19. Kedua, selain melihat gejala yg umum terjadi, radiolog mungkin juga bisa melihat tanda-tanda infeksi COVID-19 dengan pencitraan perut atau endoskopi. Tanda-tanda yang bisa dilihat melalui perut adalah peradangan pada usus besar dan kecil, gas pada dinding usus (pneumatosis intestinalis) dan perforasi usus.

Pada pasien positif COVID-19 dengan gejala awal diare, hilangnya virus dari tubuh akan lebih lama dibandingkan pada pasien yang tidak mempunyai gejala gastrointestinal. Meskipun virus Corona juga dapat ditemukan pada feses, penyebaran virus COVID-19 ini belum terjadi secara fecal oral atau melalui makanan, misalnya pada penyakit demam thypoid atau pada infeksi rotavirus. Adanya virus yang menginfeksi pencernaan menunjukkan bahwa mikrobiota yang bertugas melindungi pencernaan telah hilang atau lebih sedikit jumlahnya, sehingga mikrobiota penyebab penyakit yang terus berkembang dan meningkat. Mikrobiota usus secara signifikan mengatur perkembangan dan fungsi sistem kekebalan tubuh, baik yang bersifat bawaan dan adaptif.³ Sinyal yang diberikan oleh mikrobiota usus dapat menyesuaikan sel kekebalan atau sel imun untuk respons pro dan anti-inflamasi sehingga memengaruhi kerentanan tubuh terhadap berbagai penyakit. Oleh sebab itu, tidak heran kalau sebanyak 70% sel imun tubuh berada pada pencernaan kita.⁴

Diet atau pola makan berperan penting dalam membentuk komposisi mikrobiota usus yang juga dapat memengaruhi status kesehatan kita. Mikrobiota usus pada individu dengan pola makan tinggi lemak atau tinggi gula lebih rentan terhadap gangguan keseimbangan mikrobiota atau dysbiosis.⁵ Sebaliknya, pola makan tinggi serat akan menyediakan energi bagi mikrobiota baik dan meningkatkan kesehatan pencernaan. Serat yang berfungsi sebagai prebiotik seperti inulin, polidekstrosa, dan serat jagung terbukti dapat meningkatkan kekebalan, keanekaragaman mikrobiota usus, dan kesehatan pencernaan. Pola makan kaya serat tidak hanya mengubah mikrobiota usus, tetapi juga dapat memengaruhi mikrobiota paru-paru, yang menunjukkan pengaruh nutrisi pada kekebalan paru.⁶ Meski menjadi nutrisi yang sering dilupakan, serat memiliki berbagai manfaat positif bagi kesehatan pencernaan dan kesehatan tubuh secara keseluruhan. Berdasarkan data RISKESDAS tahun 2018, konsumsi buah dan sayuran masyarakat Indonesia, hanya memenuhi 27,2% dari yang dianjurkan (400 gram) atau sebanyak 9 dari 10 masyarakat Indonesia kurang konsumsi buah dan sayuran. FibreFirst hadir sebagai suplemen kaya serat dan nutrisi untuk membantu memenuhi asupan serat dan menjaga kesehatan pencernaan. FibreFirst sibuat berdasarkan formulasi dari Jepang sehingga menghasilkan suplemen serat berkualitas tinggi, dengan komposisi serat premium dan ekstrak buah serta sayuran. Konsumsi satu saset FibreFirst sebelum tidur, membantu menjaga kesehatan pencernaan sehingga imunitas tetap optimal.




¹ Xiao, F., Tang, M., Zheng, X., Liu, Y., Li, X., & Shan, H. (2020). Evidence for gastrointestinal infection of SARS-CoV-2. Gastroenterology, 158(6), 1831-1833.
² Cheung, K. S., Hung, I. F., Chan, P. P., Lung, K. C., Tso, E., Liu, R., … & Yip, C. C. (2020). Gastrointestinal manifestations of SARS-CoV-2 infection and virus load in fecal samples from the Hong Kong cohort and systematic review and meta-analysis. Gastroenterology.
³ Negi, S., Das, D. K., Pahari, S., Nadeem, S., & Agrewala, J. N. (2019). Potential role of gut microbiota in induction and regulation of innate immune memory. Frontiers in immunology, 10.
⁴ Castro, G. A., & Arntzen, C. J. (1993). Immunophysiology of the gut: a research frontier for integrative studies of the common mucosal immune system. American Journal of Physiology-Gastrointestinal and Liver Physiology, 265(4), G599-G610.
⁵ Voigt, R. M., Forsyth, C. B., Green, S. J., Mutlu, E., Engen, P., Vitaterna, M. H., … & Keshavarzian, A. (2014). Circadian disorganization alters intestinal microbiota. PloS one, 9(5), e97500.
⁶ Trompette, A., Gollwitzer, E. S., Yadava, K., Sichelstiel, A. K., Sprenger, N., Ngom-Bru, C., … & Marsland, B. J. (2014). Gut microbiota metabolism of dietary fiber influences allergic airway disease and hematopoiesis. Nature medicine, 20(2), 159-166.