Mengenal Dispepsia atau Maag dan Cara Mengatasinya

Mengenal Dispepsia atau Maag dan Cara Mengatasinya

Lambung adalah organ penting dalam tubuh manusia yang berfungsi sebagai salah satu bagian dari sistem pencernaan untuk mencerna makan dan menyerap sari-sari makanan. Lambung cukup rentan mengalami cidera atau terluka. Asupan makanan dan minuman sehari-hari dapat mempengaruhi kerja lambung dengan mengubah tingkat keasaman lambung. Meningkatnya asam pada lambung, membuat dinding lambung lama-kelamaan tidak kuat menahan asam yang ada pada lambung dan potensi menimbulkan luka. Asam lambung yang meningkat disertai perut terasa perih seperti diiris-iris biasa dikenal dengan sebutan penyakit maag. Sebenarnya sebutan penyakit maag tidak ada dalam kamus medis, kata maag berasal dari Bahasa Belanda de-maag yang berarti lambung. Dalam dunia medis, penyakit maag dikenal sebagai sindrom dispepsia yang diartikan sebagai kumpulan gejala tidak nyaman pada perut bagian atas, antara lain kehilangan selera makan, mual, muntah, kembung, hingga rasa sakit pada bagian perut atas.¹

Penyakit maag kurang menjadi perhatian masyarakat akibat dari kurangnya informasi dan pengetahuan tentang penyakit lambung. Sehingga masyarakat seringkali mengabaikan gejala-gejala yang timbul. Di Indonesia belum terdapat prevalensi penyakit ini secara keseluruhan. Penelitian pada tahun 2016 yang dimuat dalam Medical Journal of Indonesia menyebutkan prevalensi infeksi bakteri Helicobacter pylori sebesar 22,1%.² Infeksi bakteri H. pylori berhubungan dengan kejadian dispepsia, selain itu beberapa penyebab umum yang dapat memunculkan gangguan kesehatan lambung antara lain:³,

  • Menjalani pola hidup yang tidak sehat;
  • Makan terlalu banyak atau terlalu cepat;
  • Sering konsumsi junk food, makanan berlemak, berminyak, dan pedas;
  • Terlalu banyak minum kafein atau alkohol;
  • Terlalu banyak konsumsi coklat atau soda;
  • Merokok;
  • Berat badan berlebih;
  • Kondisi stres atau trauma secara emosi;

Pengobatan untuk penyakit maag tergantung pada penyebab dan tingkat keparahan dari gejalanya. Jika gejalanya ringan dan jarang timbul, perubahan gaya hidup akan dapat membantu meringankan keluhan. Berikut merupakan beberapa perubahan gaya hidup yang dapat dilakukan untuk menghindari maupun mengatasi: ⁵,

  • Menghindari atau membatasi konsumsi makanan pedas, makanan yang digoreng, dan makanan yang asam;
  • Menghindari atau membatasi konsumsi alkohol, kafein, dan coklat;
  • Konsumsi makan lebih sering dengan porsi kecil;
  • Mengurangi stres;
  • Berolahraga secara teratur dan berhenti merokok;
  • Hindari ataupun batasi konsumsi obat kelompok Non-Steroidal Anti Inflammatory Drug NSAID atau obat yang digunakan untuk mengatasi sakit kepala, nyeri menstruasi, dan nyeri sendi. Jika memang harus konsumsi obat tersebut, barengi dengan konsumsi makanan dan air untuk menghindari gejala;
  • Meningkatkan konsumsi serat. Buah-buahan, sayur-sayuran, dan gandum utuh mengandung serat dan merupakan pilihan yang sangat baik untuk melindungi dari gangguan pencernaan.



¹ Healthline. (June 25, 2020). What are the symptoms of acute gastritis?. Retrieved from Thttps://www.healthline.com/health/gastritis-acute#symptoms
² Syam, A. F. (2016). Current situation of Helicobacter pylori infection in Indonesia. Medical Journal of Indonesia, 25(4), 263-6.
³ Medical News Today. (June 25, 2020). What to know about indigestion. Retrieved from https://www.medicalnewstoday.com/articles/163484#causes
⁴ Healthline. (June 25, 2020). What causes acute gastritis?. Retrieved from https://www.healthline.com/health/gastritis-acute#causes
⁵ Medical News Today. (June 25, 2020). What is dyspepsia?. Retrieved from https://www.medicalnewstoday.com/articles/163484#treatments
⁶ Healthline. (June 25, 2020). How is acute gastritis treated?. Retrieved from https://www.healthline.com/health/gastritis-acute#treatment