Refluks Asam Lambung atau GERD dapat Menyebabkan Kematian. Hoaks atau Fakta?

Refluks Asam Lambung atau GERD dapat Menyebabkan Kematian. Hoaks atau Fakta?

FibreFirstHealth Articles Leave a Comment

Akhir tahun lalu ramai dibicarakan seputar refluks asam lambung atau gastroesophageal reflux disease (GERD) yang dikatakan dapat menyebabkan kematian secara mendadak. Refluks asam lambung terjadi ketika asam lambung naik ke kerongkongan/esofagus. Jika kondisi tersebut semakin sering terjadi, disebut sebagai GERD yang gejalanya meliputi nyeri dada, batuk, dan kesulitan menelan, terutama saat kamu berbaring.¹ Terkadang juga ada sedikit makanan atau cairan asam yang naik hingga mulut. Faktanya, informasi yang menyebutkan bahwa GERD dapat memicu kematian mendadak ternyata tidak benar alias hoaks. Refluks asam lambung tidak mengancam jiwa, tetapi jika terjadi terus menerus atau kronis dan tidak ditangani dengan pengobatan yang tepat, dapat menyebabkan komplikasi kesehatan yang serius dan berpotensi mengancam jiwa.

Ketika asam lambung naik ke kerongkongan secara terus menerus, hal tersebut dapat menimbulkan luka di lapisan kerongkongan dan menyebabkan peradangan di kerongkongan yang dikenal dengan Esofagitis. Kondisi ini ditandai dengan rasa sakit dan kesulitan saat menelan, suara serak, serta perih di area dada.² Bila tidak ditangani dengan tepat, esofagitis dapat merusak jaringan esofagus, menimbulkan luka atau penyempitan di kerongkongan, hingga kanker esofagus. Jika kamu mengalami GERD kronis (refluks asam yang terjadi dua kali atau lebih per minggu), kamu mungkin berisiko terkena kanker kerongkongan.³ Meskipun kebanyakan orang yang menderita GERD tidak sampai berkembang menjadi kanker kerongkongan, dan berhasil mengatasi kondisi tersebut dengan obat-obatan dan perubahan gaya hidup.

Berikut beberapa tips yang dapat kamu lakukan untuk mencegah GERD bertambah parah dan menimbulkan berbagai komplikasi:

1. Membatasi jenis makanan tertentu

Beberapa makanan tertentu cenderung meningkatkan gejala GERD. Kamu mungkin disarankan untuk membatasi jenis makanan tersebut, atau bahkan tidak mengonsumsinya sama sekali. Makanan berminyak, tinggi lemak, asam, dan pedas cenderung menyebabkan refluks.⁴ Makanan tertentu seperti peppermint, saus tomat, bawang putih, bawang bombay, jeruk, dan cokelat juga diketahui memicu refluks asam lambung.

Sebaliknya, konsumsi makanan tinggi serat ternyata dapat mengurangi gejala GERD. Diet tinggi serat dapat menurunkan jumlah refluks dan frekuensi heartburn yang terjadi.⁵

2. Mengubah kebiasaan makan

Makan terlalu malam dan mendekati waktu tidur adalah kebiasaan yang dapat memperburuk kondisi refluks asam lambung yang kamu alami. Cobalah untuk makan 2-3 jam sebelum kamu tidur atau berbaring. Selain itu, jangan makan dengan porsi terlalu banyak dan kunyah makanan secara perlahan untuk mengurangi risiko terjadinya refluks.

3. Mengurangi berat badan

Kejadian dan keluhan GERD sangat erat kaitannya dengan kelebihan berat badan karena dapat memberi tekanan pada area perut. Hal tersebut juga meningkatkan risiko sfingter esofagus bagian bawah (LES), yaitu cincin otot antara kerongkongan dan perut, menjadi rileks ketika seharusnya tidak. Penurunan berat badan telah terbukti menjadi terapi yang efektif untuk GERD yang dialami pada individu dengan kelebihan berat badan/obesitas.⁶


¹ Spechler, S. J. (2003). Clinical manifestations and esophageal complications of GERD. The American journal of the medical sciences, 326(5), 279-284.
² Pietrangelo, A. (29 March 2019). Esophagitis. Retrieved from https://www.healthline.com/health/esophagitis (Accessed on 3 January 2022)
³ Reed-Guy, L. (20 August 2018). Esophageal Cancer and Acid Reflux. Retrieved from https://www.healthline.com/health/gerd/esophageal-cancer (Accessed on 3 January 2022)
⁴ Newberry, C., & Lynch, K. (2019). The role of diet in the development and management of gastroesophageal reflux disease: why we feel the burn. Journal of thoracic disease, 11(Suppl 12), S1594.
⁵ Morozov, S., Isakov, V., & Konovalova, M. (2018). Fiber-enriched diet helps to control symptoms and improves esophageal motility in patients with non-erosive gastroesophageal reflux disease. World journal of gastroenterology, 24(21), 2291.
⁶ Thalheimer, A., & Bueter, M. (2021). Excess Body Weight and Gastroesophageal Reflux Disease. Visceral Medicine, 1-6.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *