Serotonin, Hormon Kebahagiaan untuk Pencernaan dan Imunitas

Serotonin, Hormon Kebahagiaan untuk Pencernaan dan Imunitas

Serotonin yang disebut juga sebagai hormon kebahagiaan, merupakan zat penting bagi otak yang mengatur suasana hati, membantu mencerna makanan, mengatur sistem peredaran darah, serta meningkatkan penyesuaian jam biologis tubuh. Serotonin berperan sebagai neurotransmitter, yaitu zat kimia tubuh yang menyampaikan sinyal dari satu bagian otak ke bagian lain.¹ Mengingat serotonin adalah kunci dalam pengaturan emosi, sehingga jelas terbukti bahwa rasa stres dan mood yang tidak baik, disebabkan dari penurunan tingkat serotonin di otak. Sehingga peningkatkan serotonin dapat meningkatkan mood dan kualitas hidup. Olahraga seperti jogging, bersepeda, dan berenang, secara signifikan dapat meningkatkan produksi serotonin dalam tubuh. Kamu butuh sekitar 30 menit berolahraga denngan frekuensi tiga hingga empat kali dalam seminggu untuk meningkatkan tingkat serotonin. Olahraga lain seperti yoga, pilates, dan angkat beban juga dapat meningkatkan serotonin, tetapi peningkatannya tidak sebanyak olahraga yang disebutkan diawal.²

Walaupun serotonin diproduksi oleh otak, dimana mereka melakukan fungsi utamanya, tetapi lebih dari 90% serotonin tubuh diproduksi di saluran pencernaan. Apabila seseorang mengalami gangguan pada sistem pencernaan, maka akan mengganggu sirkulasi serotonin dari pencernaan ke otak untuk melakukan tugasnya.³ Disisi lain, produksi serotonin juga penting untuk mempertahankan fungsi dan kerja normal dari sistem pencernaan. Apabila jumlah serotonin yang diproduksi sedikit, maka akan meningkatkan risiko terkena penyakit saluran pencernaan, seperti irritable bowel syndrome dan konstipasi.⁴ Penelitian juga menunjukkan serotonin memainkan peran dalam mengatur hubungan pencernaan dan otak.⁵ Misal, ketika merasa tertekan atau stres, timbul reaksi tidak nyaman pada perut.

Serotonin juga dapat mengaktivasi sel-T untuk dapat menjalankan fungsinya. Sel-T adalah salah satu tipe dari darah putih yang berperan sebagai sel imun pada tubuh. Karena sel-T berperan sebagai sel imun, sel-T berperan untuk membunuh virus, bakteri, dan organisme penyebab penyakit, serta mencegahnya masuk ke sel tubuh yang lain. Sebuah penelitian di Swedia terhadap 200 orang menemukan bahwa adanya respon sel T yang kuat pada sebagian besar orang yang memiliki gejala ringan atau tidak memiliki gejala setelah terinfeksi corona virus.⁶

Seperti bagian lain dari tubuh, sel di pencernaan juga membutuhkan nutrisi yang baik agar dapat bekerja dengan optimal, termasuk untuk produksi serotonin. Konsumsi makan tinggi serat dapat digunakan sebagai bahan bakar bagi bakteri baik di pencernaan yang bekerja menjaga kesehatan pencernaan. Isi setengah dari piring makanmu dengan sayuran dan buah-buahan untuk camilan, sehingga dapat memenuhi kebutuhan serat harian. Jika konsumsi serat harian tidak dapat dipenuhi dari makanan sehari-hari, kamu dapat mengonsumsi suplemen yang kaya serat, seperti FibreFirst. Dengan konsumsi satu saset FibreFirst sebelum tidur, dapat membantu memenuhi asupan serat dan nutrisi harian, menjaga kesehatan pencernaan sehingga produksi serotonin di sel pencernaan akan berlangsung optimal.



¹ Hassan, E. A. H., & Amin, M. A. (2011). Pilates Exercises influence on the serotonin hormone, some physical variables and the depression degree in battered women. World Journal of Sport Sciences, 5(2), 89-100.
² Sharifi, M., Hamedinia, M. R., & Hosseini-Kakhak, S. A. (2018). The Effect of an Exhaustive Aerobic, Anaerobic and Resistance Exercise on Serotonin, Beta-endorphin and BDNF in Students. Physical education of students, 22(5), 272-277.
³ Camilleri, M. (2009). Serotonin in the gastrointestinal tract. Current opinion in endocrinology, diabetes, and obesity, 16(1), 53.
⁴ Costedio, M. M., Hyman, N., & Mawe, G. M. (2007). Serotonin and its role in colonic function and in gastrointestinal disorders. Diseases of the colon & rectum, 50(3), 376-388.
⁵ Foster, J. A., & Neufeld, K. A. M. (2013). Gut–brain axis: how the microbiome influences anxiety and depression. Trends in neurosciences, 36(5), 305-312.
⁶ Sekine, T., Perez-Potti, A., Rivera-Ballesteros, O., Straling, K., Gorin, J. B., Olsson, A., … & Wulliman, D. J. (2020). Robust T cell immunity in convalescent individuals with asymptomatic or mild COVID-19. BioRXiv.