Sistem Pencernaan Sehat Untuk Suasana Hati Lebih Baik

Sistem Pencernaan Sehat Untuk Suasana Hati Lebih Baik

FibreSquads sering merasa mual atau sakit perut ketika merasa cemas, stress, atau gugup? Sensasi yang berasal dari perut ini menunjukkan bahwa otak dan sistem pencernaan kita terhubung. Sistem komunikasi atau koneksi antara sistem pencernaan dengan otak disebut gut-brain axis.¹ Kedua organ ini terhubung baik secara fisik maupun biokimia dengan beberapa cara berbeda. Usus manusia mengandung 10 hingga 100 triliun mikrobiota, atau hampir 10 kali lebih besar dari jumlah total sel dalam tubuh manusia.² Mikrobiota usus memainkan peran penting dalam komunikasi dua arah antara usus dan sistem saraf pusat. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mikrobiota usus dapat memengaruhi fungsi otak melalui jalur neuroimun dan neuroendokrin serta sistem saraf.

Mikrobiota usus akan menghasilkan ratusan neurokimia yang digunakan otak untuk mengatur proses fisiologis dasar serta proses mental seperti proses belajar, memori dan suasana hati. Oleh sebab itu, mikrobiota usus dapat menjadi pengatur utama dalam suasana hati, rasa sakit, dan juga fungsi kognitif. Mikrobiota usus dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti genetik, lingkungan, cara persalinan, diet atau pola makan, penggunaan antibiotik, serta konsumsi probiotik dan prebiotik. Studi menunjukkan bahwa perubahan jumlah dan koloni mikrobiota usus dapat memengaruhi mental atau suasana hati. Dua jenis microbiota usus, yaitu Coprococcus dan Dialister, tidak ditemukan pada individu yang mengalami depresi, tetapi tetap ditemukan pada individu dengan kualitas hidup yang baik.³ Beberapa individu yang mengalami masalah di sistem pencernaan lebih berisiko mengalami gangguan mental.⁴ Prevalensi untuk kejadian depresi di Indonesia sekitar 3,7% dari total populasi.⁵

Bukti lain yang menunjukkan hubungan antara sistem pencernaan dan suasana hati adalah lebih dari 90% serotonin tubuh diproduksi di sistem pencernaan.⁶ Serotonin adalah neurotransmiter atau bahan kimia yang menyampaikan informasi dari satu sel saraf ke sel saraf lainnya, berperan dalam berbagai fungsi tubuh, termasuk mengatur emosi dan perasaan bahagia. Selain jumlah dan koloni mikrobiota usus, kadar short chain fatty acid (SCFA) atau asam lemak rantai pendek, juga dapat memengaruhi perasaan depresi. Kandungan SCFA pada feses individu dengan depresi lebih rendah dibandingkan dengan individu tanpa gangguan mental.⁷

SCFA adalah produk hasil dari fermentasi serat oleh mikrobiota atau bakteri di sistem pencernaan. Sehingga konsumsi serat akan meningkatkan produksi SCFA dan juga jumlah mikrobiota dan koloni mikrobiota di sistem pencernaan. Peningkatan jumlah dan keanekaragaman koloni mikrobiota di sistem pencernaan dapat menjadi indikator pencernaan yang sehat. Sebaliknya, ketika kadar SCFA berkurang, keseimbangan mikrobiota di sistem pencernaan akan menurun, dan menyebabkan peradangan yang berhubungan dengan kejadian depresi.⁸

Konsumsi serat, khususnya yang memiliki sifat prebiotik, seperti Inulin atau galaktosakarida, juga dapat menurunkan kadar Kortisol atau hormon stres dalam tubuh. Studi mengenai hubungan positif antara konsumsi buah dan sayuran dengan tingkat depresi juga sudah banyak dipublikasikan. Semakin banyak kita mengonsumsi buah dan sayuran dalam sehari (> 5 porsi), maka risiko depresi juga semakin berkurang. Setiap peningkatkan 100 gram untuk konsumsi buah dan sayuran, akan menurunkan risiko depresi sebesar 5%.⁹ Buah dan sayuran kaya akan serat, vitamin dan mineral, serta antioksidan. Beragam nutrisi tersebut memiliki efek perlindungan terhadap depresi.

Konsumsi serat terbukti dapat menjaga kesehatan sistem pencernaan, sehingga meningkatkan produksi serotonin, meningkatkan jumlah dan koloni mikrobiota di pencernaan, hingga meningkatkan kadar SCFA, yang berhubungan positif dengan peningkatan suasana hati atau mood. Sayangnya 95,4% masyarakat Indonesia kurang konsumsi buah dan sayuran, sehingga berisiko kekurangan serat dan beragam nutrisi yang diperlukan tubuh. Saat asupan serat tidak dapat dipenuhi dari makanan sehari-hari, FibreSquads dapat mengonsumsi FibreFirst, suplemen kaya serat premium dan nutrisi dari ekstrak buah dan sayuran.

Jadi jangan lupa untuk memperhatikan kesehatan sistem pencernaan FibreSquad ya, agar suasana hati meningkat, terhindar dari kecemasan berlebihan, dan juga depresi. FibreFirst #SehatnyaSerat



¹ Carabotti, Marilia, et al. “The gut-brain axis: interactions between enteric microbiota, central and enteric nervous systems.” Annals of gastroenterology: quarterly publication of the Hellenic Society of Gastroenterology 28.2 (2015): 203.
² Bäckhed, Fredrik, et al. “Host-bacterial mutualism in the human intestine.” science 307.5717 (2005): 1915-1920.
³ Valles-Colomer, Mireia, et al. “The neuroactive potential of the human gut microbiota in quality of life and depression.” Nature microbiology 4.4 (2019): 623-632.
⁴ Lee, Yao-Tung, et al. “Risk of psychiatric disorders following irritable bowel syndrome: a nationwide population-based cohort study.” PLoS One 10.7 (2015).
⁵ Fahmi, Mohamad, et al. “Does your neighborhood protect you from being depressed? A study on social trust and depression in Indonesia.” BMC public health 19.1 (2019): 1371
⁶ Fung, Thomas C., et al. “Intestinal serotonin and fluoxetine exposure modulate bacterial colonization in the gut.” Nature microbiology 4.12 (2019): 2064-2073.
⁷ Skonieczna-Żydecka, Karolina, et al. “Faecal short chain fatty acids profile is changed in Polish depressive women.” Nutrients 10.12 (2018): 1939.
⁸ Silva, Ygor Parladore, Andressa Bernardi, and Rudimar Luiz Frozza. “The Role of Short-Chain Fatty Acids From Gut Microbiota in Gut-Brain Communication.” Frontiers in Endocrinology 11 (2020): 25.
⁹ Saghafian, Faezeh, et al. “Fruit and vegetable consumption and risk of depression: accumulative evidence from an updated systematic review and meta-analysis of epidemiological studies.” British Journal of Nutrition 119.10 (2018): 1087-1101.