Terbiasa Melewatkan Sarapan Dapat Meningkatkan Risiko Penyakit Kronis

Terbiasa Melewatkan Sarapan Dapat Meningkatkan Risiko Penyakit Kronis

Setiap harinya, tubuh FibreSquads membutuhkan nutrisi untuk dapat beraktivitas sehari-hari, mendukung proses pertumbuhan, serta regenerasi sel-sel tubuh. Nutrisi ini diperoleh saat kita makan dan tubuh menyerap nutrisi yang ada di makanan tersebut. Kebiaasaan atau pola makan, ternyata dapat memengaruhi kesehatan dan kualitas hidup seseorang. Umumnya, pola makan lebih menitikberatkan pada jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi. Padahal frekuensi makan juga dapat memengaruhi kesehatan kita. Dengan alasan kesibukan, sedang menjalankan program penurunan berat badan, atau alasan lainnya, banyak orang yang memilih untuk melewatkan waktu makan, sehingga frekuensi makan berkurang.

Salah satu waktu makan yang sering kali dihilangkan adalah sarapan, padahal sarapan dikenal sebagai “the most important meal of the day” atau waktu makan paling penting dalam sehari. Selama FibreSquads tidur, tubuh tetap membutuhkan nutrisi untuk menjalankan proses pernapasan, pencernaan, tetapi saat tidur FibreSquads tidak makan dan minum. Saat sarapan, tubuh akan mengisi kembali simpanan energi yang terpakai selama tidur dan memberikan nutrisi untuk menjalani aktivitas hingga waktu makan siang tiba. Disarankan untuk sarapan dua jam setelah FibreSquads bangun tidur, tidak lewat dari jam 10 pagi, dengan 20-35% kalori dari total kebutuhan kalori harian.¹ Melewatkan waktu sarapan justru dapat mengganggu metabolisme tubuh dan menimbulkan berbagai dampak negatif untuk tubuh.

Studi yang dimuat dalam jurnal Public Health Nutrition pada tahun 2019 mengemukakan bahwa kebiasaan melewatkan sarapan berhubungan dengan peningkatkan risiko untuk mengalami peradangan kronis yang selanjutnya dapat meningkatkan risiko penyakit kronis seperti penyakit jantung, diabetes tipe 2, dan kanker.² Mengapa hal tersebut dapat terjadi? Beberapa mekanisme potensial yang menyebabkan hal tersebut yaitu

Kontrol nafsu makan

Sarapan berhubungan positif dengan kontrol nafsu makan, yang selanjutnya juga memengaruhi kontrol glikemik/gula darah.³ Melewatkan sarapan akan mengganggu kontrol glikemik serta sensitivitas insulin dan meningkatkan kemungkinan makan berlebihan di jadwal makan setelahnya. Kontrol glikemik yang terganggu akan mengubah respon peradangan setelah makan dan meningkatkan risiko penyakit kronis.

Peningkatan stres

Melewatkan sarapan menyebabkan periode puasa semakin panjang, yang dianggap sebagai keadaan stress oleh tubuh.⁴ Stres ini meningkatkan tekanan darah yang dapat menyebabkan peningkatan respons peradangan di tubuh.

Setelah tahu fakta-fakta diatas, FibreSquads jangan lagi melewatkan waktu sarapan, apalagi bila alasannya takut berat badan bertambah. Tetap konsumsi makanan yang bergizi lengkap dan seimbang ketika sarapan, agar kesehatan tetap terjaga dan terhindar dari berbagai penyakit, khususnya penyakit kronis.


¹ Zilberter, T., & Zilberter, E. Y. (2014). Breakfast: to skip or not to skip?. Frontiers in public health, 2, 59.
² Zhu, S., Cui, L., Zhang, X., Shu, R., VanEvery, H., Tucker, K. L., … & Gao, X. (2021). Habitually skipping breakfast is associated with chronic inflammation: a cross-sectional study. Public Health Nutrition, 24(10), 2936-2943.
³ Gwin, J. A., & Leidy, H. J. (2018). Breakfast consumption augments appetite, eating behavior, and exploratory markers of sleep quality compared with skipping breakfast in healthy young adults. Current developments in nutrition, 2(11), nzy074.
⁴ Nas, A., Mirza, N., Hägele, F., Kahlhöfer, J., Keller, J., Rising, R., … & Bosy-Westphal, A. (2017). Impact of breakfast skipping compared with dinner skipping on regulation of energy balance and metabolic risk. The American journal of clinical nutrition, 105(6), 1351-1361.