Asupan Serat Harian dan Hubungannya Dengan Depresi Serta Kecemasan
Publish Date: 18 May 2022

Asupan Serat Harian dan Hubungannya Dengan Depresi Serta Kecemasan

Beberapa tahun terakhir, kesadaran masyarakat Indonesia terkait dengan isu kesehatan mental terus meningkat. Kesehatan mental sangat penting untuk mendukung kesehatan fisik dan produktivitas. Gangguan mental dapat terjadi pada siapa saja dan dari berbagai kelompok usia. Salah satu gangguan mental yang banyak terjadi adalah depresi, yaitu gangguan suasana hati (mood) yang ditandai dengan rasa sedih yang berkepanjangan dan kehilangan minat terhadap kegiatan yang biasanya dilakukan dengan senang hati. Depresi tidak dapat dianggap remeh, karena termasuk faktor risiko yang signifikan untuk bunuh diri, penyebab utama kematian pada orang dewasa muda.

Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2018 menunjukkan lebih dari 19 juta penduduk berusia lebih dari 15 tahun mengalami gangguan mental emosional, dan lebih dari 12 juta penduduk berusia lebih dari 15 tahun mengalami depresi. Data lain juga menunjukkan bahwa Indonesia memiliki prevalensi orang dengan gangguan jiwa sekitar 1 dari 5 penduduk, artinya sekitar 20% populasi di Indonesia memiliki potensi atau risiko mengalami masalah gangguan jiwa. Wah, cukup serius juga ya FibreSquad permasalahan depresi dan kecemasan ini. Lalu apakah ada pola makan tertentu yang dapat mengurangi risiko gangguan kesehatan mental ini?

Ternyata memiliki pola makan yang sehat, seperti tinggi asupan serat, dapat menurunkan risiko depresi lho, FibreSquad. Penelitian yang dilakukan belum lama ini ternyata menunjukkan hubungan yang positif antara konsumsi atau asupan serat dengan kejadian depresi dan kecemasan. Asupan serat yang tinggi memiliki fungsi protektif terhadap kejadian depresi pada orang dewasa. Setiap peningkatan asupan serat harian sebanyak 5 g akan mengurangi risiko depresi sebesar 5%.¹ Penelitian lain pada orang dengan hipertensi, asupan serat harian kurang dari 8,1 g berisiko 2,8 kali lebih tinggi mengalami kecemasan.²

Serat terdiri dari dinding sel tanaman yang tahan terhadap enzim pencernaan manusia, tetapi dapat terdegradasi oleh bakteri baik di pencernaan dan akan menghasilkan asam lemak rantai pendek (SCFA). SCFA dapat mengatur emosi melalui hubungan usus-otak (gut-brain axis) dan menghambat peradangan. Sebaliknya, penurunan SCFA akan meningkatkan permeabilitas usus dan merusak lapisan penghalang (barrier) usus, sehingga faktor peradangan dapat memasuki peredaran darah. Padahal peradangan sangat erat hubungannya dengan timbulnya depresi.³ Mikrobiota atau bakteri baik di pencernaan juga berperan dalam metabolisme neurotransmiter seperti pembentukan serotonin, hormon yang mengatur kecemasan, kebahagiaan, dan suasana hati.⁴ Rendahnya tingkat seronin dalam tubuh berhubungan dengan kejadian depresi.

Ternyata pola makan tinggi serat tidak hanya bermanfaat untuk kesehatan fisik kita ya, tetapi juga bermanfaat untuk menunjang kesehatan mental kita juga. Karena itu, jangan lupa untuk memenuhi asupan serat harian, yaitu sebesar 30 g sehari atau sebanyak 400 g buah serta sayuran. Setiap kali FibreSquad makan, isi setengah bagian piring dengan sayuran, dan jadikan buah-buahan sebagai menu camilan. Merubah pola makan menjadi lebih sehat dan tinggi serat, tentu bukan hal yang mudah. Tapi ada cara mudah dan simple untuk membantu FibreSquad memenuhi asupan serat harian, cukup konsumsi 1 (satu) saset FibreFirst saat malam hari sebelum tidur. FibreFirst adalah suplemen tinggi serat dengan komposisi SERAT PREMIUM dan NUTRISI dari ekstrak buah serta sayuran, untuk membantu memenuhi asupan serat harian kamu, FibreSquad.


¹ Saghafian, F., Hajishafiee, M., Rouhani, P., & Saneei, P. (2022). Dietary fiber intake, depression, and anxiety: a systematic review and meta-analysis of epidemiologic studies. Nutritional Neuroscience, 1-19.
² Liu, Y., Ju, Y., Cui, L., Liu, T., Hou, Y., Wu, Q., … & Wang, X. (2021). Association between dietary fiber intake and incidence of depression and anxiety in patients with essential hypertension. Nutrients, 13(11), 4159.
³ Kohler, O., Krogh, J., Mors, O., & Eriksen Benros, M. (2016). Inflammation in depression and the potential for anti-inflammatory treatment. Current neuropharmacology, 14(7), 732-742.
⁴ O’Mahony, S. M., Clarke, G., Borre, Y. E., Dinan, T. G., & Cryan, J. F. (2015). Serotonin, tryptophan metabolism and the brain-gut-microbiome axis. Behavioural brain research, 277, 32-48.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 × two =